Pengertian dan Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

Pengertian dan Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

ahlisosial.my.id - Dalam kajian ilmiah, penelitian merupakan hal yang sangat penting. Kajian atau karya ilmiah selain menemukan hal yang baru, juga dapat menambah wawasan.

Bagi peneliti, karya ilmiah sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman, wawasan, dan dapat menemukan hal baru. Bagi pembaca karya ilmiah, dapat dijadikan rujukan atau bahan bacaan untuk menambah informasi. Wawasan, pengalaman, dan informasi yang didapat cukup beragam. Termasuk masalah ekonomi, budaya, teknologi, religius, dll, tergantung topik atau subyek penelitian.

Penelitian merupakan suatu usaha untuk mengkaji informasi secara sistematis dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam serta mencari makna dari informasi yang diteliti.

Informasi atau data yang telah dikumpulkan diverifikasi untuk mengetahui kevalidanya. Verifikasi atau kritik terhadap sumber data tentu terdapat tata caranya. Selain itu, ketika penelitian dalam verifikasi sumber data atau informasi sudah selesai, maka dilanjutkan dengan interpretasi dan historiografi atau penulisan.

Penelitian sejarah, tentu tidak jauh berbeda dengan tatacara penelitian pada umumnya. Seperti mencari topik atau subyek penelitian, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.

Yang menjadi pertanyaan adalah; bagaimanakah langkah-langkah penelitian sejarah berdasarkan aturan atau tatacara yang sudah ditetapkan?

Dalam tulisan ini akan membahas mengenai pengertian dan langkah-langkah penelitian sejarah secara lengkap. Tulisan ini juga akan kami usahakan untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah difahami.

A. Pengertian Penelitian Sejarah

Istilah "penelitian sejarah" terdapat dua kata yaitu, "penelitian" dan "sejarah". Dari kedua kata tersebut, masing-masing mempunyai pengertian masing-masing.

Pertama, kata “penelitian” memiliki arti menyelidiki, mendalami, menggali secara sistematis.

Sedangkan penelitian secara terminologi adalah proses atau usaha untuk mengkaji informasi secara sistematis dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru yang lebih mendalam serta makna dari informasi yang diteliti.

Kedua, adalah kata “sejarah”. Secara istilah sejarah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau berdasarkan bukti-bukti sejarah. Sebenarnya untuk pengertian sejarah, para ahli sudah banyak yang memberikan pengertian dengan bahasanya masing-masing.

Walaupun berbeda, akan tetapi memiliki makna yang sama. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian sejarah silahkan mengunjungi artikel berikut ini:

Pengertian Sejarah Secara Umum dan Para Ahli

Penelitian sejarah adalah suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis yang bertujuan untuk menemukan, menafsirkan dan merevisi fakta-fakta, sehingga tercapai pengetahuan lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori atau hukum.

Secara sederhana penelitian sejarah adalah proses mengkaji secara sistematis suatu peristiwa masa lalu dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru yang lebih mendalam serta makna dari peristiwa yang diteliti.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa, penelitian sejarah adalah sebuah proses untuk menggali dan memahami lebih dalam pada suatu peristiwa masa lampau dengan cara yang sistematis.

Baik, setelah memahami pengertian penelitian sejarah, maka pembahasan yang selanjutnya adalah langkah-langkah dalam penelitian sejarah.

B. Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, penelitian sejarah adalah proses mengkaji secara sistematis. Kuntowijoyo berpendapat bahwa, terdapat lima tahap dalam penelitian sejarah.

Lima langkah atau tahap tersebut adalah:

  1. Menentukan topik atau subyek yang dijadikan penelitian
  2. Mengumpulkan data dari berbagai sumber atau bisa disebut dengan heuristik,
  3. Kritik atau verifikasi terhadap data yang telah dikumpulkan,
  4. Penafsiran terhadap data yang telah diverifikasi disebut juga dengan interpretasi,
  5. Tahap penulisan atau historiografi.

Lima langkah atau tahapan untuk meneliti subyek sejarah di atas, tentu terdapat tata caranya. Seperti, cara verifikasi atau kritik data yang telah terkumpul, cara mencari topik atau subyek penelitian, atau cara untuk menafsirkan data, dll.

Maka dari itu, dibawah ini akan dijelaskan secara detail tata cara lima tahap di atas. Inilah langkah-langkah penelitian sejarah sekaligus penjelasannya;

1. Menentukan Topik atau Subyek Penelitian

Langkah pertama ini adalah langkah yang gampang-gampang susah, karena pada saat menentukan topik penelitian, topik yang diteliti haruslah merupakan topik yang layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya (Tarunasena M., Departemen Pend., Kelas X, 2009: 78).

Topik penelitian juga terkait dengan keberadaan sumber penelitian. Jangan sampai memilih topik yang menarik, tetapi sumber data atau sumber yang dijadikan bahan penelitian sangat jarang atau bahkan tidak ada.

Keberadaan sumber data sebagai bahan penelitian, merupakan hal yang sangat penting. Jika sumber data sangat jarang, maka dalam proses penelitian akan menyulitkan dalam pencarianya.

Maka dari itu, selain topik yang kita pilih layan untuk diteliti, juga kesediaan sumber atau bahan yang diteliti mudah untuk dicari.

Tarunasena M. berpendapat bahwa: Berbeda dengan penelitian ilmu pengetahuan lainya, penelitian sejarah sangat bergantung pada ketersediaan sumber.

Jadi, topik yang diteliti harus merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan informasi yang baru atau ditemukan suatu teori baru. (Tarunasena M., Departemen Pend., Kelas X, 2009: 78-79)

Dari penjelasan diatas, terdapat beberapa point penting dalam memilih topik penelitian sejarah yaitu:

  • Topik penelitian sejarah harus layak untuk diteliti.
  • Bukan merupakan pengulangan dari penelitian sebelumnya.
  • Bukan merupakan dublikasi penelitian sebelumnya.
  • Topik penelitian sejarah juga harus mempertimbangkan kesediaan sumber atau bahan penelitian.

Pemilihan topik pada penelitian sejarah penting dilakukan, karena agar lebih terfokus dan terarah pada masalah yang akan diteliti. Cara untuk memfokuskan masalah adalah dengan mengajukan lima pertanyaan yang disebut dengan lima W, yaitu; what, who, where, when, dan why.

a. What (Apa?)

Artinya adalah “Apa yang akan diteliti?” Apakah kita akan meneliti dari segi sejarah ekonomi, politik, budaya, sosial, dll.

Pernyataan tentang apa, lebih melihat pada aspek-aspek yang akan kita teliti. Misalnya kita ingin membuat sejarah desa kita, maka apanya yang ingin kita lihat dari desa tersebut, apakah ekonominya, sosialnya, politiknya, budayanya, dan aspek-aspek lainnya. (Tarunasena M., Departemen Pend., Kelas X, 2009: 78-79)

b. Who (Siapa?)

Jika kita meneliti sejarah sebuah desa dari aspek ekonominya atau dari segi sosialnya, maka kita harus menetapkan siapa saja yang berkaitan dengan aspek tersebut.

Apakah para tokoh masyarakat, atau kelompok sosial lainnya seperti petani, pengrajin, pedagang, guru, aparat desa dll. Jika penelitian ini terfokuskan pada penelitian sejarah dari aspek ekonomi, maka masyarakat yang harus kita temui adalah petani, pengrajin, dan pedagang dari desa tersebut.

Alasanya adalah petani, pengrajin dan pedagang adalah masyarakat yang berkaitan langsung dengan ekonomi. Dari golongan petani, pengrajin dan pedagang kita dapat mengumpulkan data berapa jumlah produksinya, hasil yang didapat berapa, dan bagaimana mereka bekerja.

c. Where (Dimana?)

Pertanyaan yang selanjutnya adalah di mana penelitiannya? Tempat penelitian sejarah yang sudah ditentukan akan menjadikan penelitian yang sedang dilakukan menjadi terfokus pada sebuah wilayah tertentu.

Apakah yang akan diteliti adalah sejarah desa? Maka kita tentukan desa mana yang akan diteliti. Misalnya di Desa Rawa Mangun, Kec. Manguntarto, Kab. Tartojaya. Atau penelitian fokus pada tempat yang lebih spesifik, seperti di Candi Borobudur, atau situs-situs sejarah lainya.

d. When (Kapan?)

Pertanyaan “kapan” lebih terfokus pada batas waktu atau sasi yang akan diteliti. Waktu adalah salah satu hal yang penting dalam penelitian sejarah.

Misalnya peneliti tentang perubahan sosial pada sebuah desa di tahun 1995-1997. Penetapan angka tahun ini harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bersifat akademis, misalnya karena pada tahun tersebut merupakan awal dari perubahan sampai dengan tahun menurunnya perubahan-perubahan penting. Perubahan tersebut bisa dalam konteks sosial, ekonomi, politik, dan konteks lainnya.

e. Why (Mengapa?)

Seperti yang telah dijelaskan dalam buku Sejarah SMA/MA Untuk Kelas X karangan Tarunasena M. yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan bahwa: Pertanyaan berikutnya yaitu mengapa (why).

Pertanyaan ini lebih bersifat analitis dan mendalam. Dengan contoh tema penulisan tentang perubahan sosial desa 1950-1955, pertanyaan mengapa dapat menyangkut mengapa pada tahun tersebut terjadi perubahan sosial? Perubahan sosial ini bisa dilihat dari berbagai ciri, misalkan status pekerjaan, pemilikan tanah, pendidikan, dan lain-lain.

Perubahan pada status pekerjaan misalnya perubahan dari petani menjadi buruh bangunan, menjadi buruh perkebunan, menjadi buruh pabrik, dan perubahan ke arah pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Perubahan pemilikan tanah bisa dilihat, misalnya adanya pemilikan lahan yang semakin sempit atau pemindahan pemilikan dari penduduk setempat ke orang lain atau orang di luar desanya.

Perubahan sosial dalam pendidikan, misalnya terjadi peningkatan masyarakat yang terlibat langsung dalam pendidikan sekolah, jumlah anak yang sekolah baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun di tingkat Perguruan Tinggi semakin meningkat.

Penting

Dalam menetukan topik penelitian sejarah melalui lima pertanyaan di atas (Lima W yaitu: what, who, where, when, why) dapat diambil beberapa point penting yaitu:

  1. What (apa) artinya penelitian harus fokus pada aspek apa yang akan diteliti, apakah dari aspek sejarah ekonomi, sejarah sosial, atau sejarah budaya.
  2. Who (siapa) artinya, penelitian harus terfokus pada siapa saja yang akan kita teliti tergantun dari segi aspek apa yang akan diteliti.
  3. Jika dari aspek ekonomi, maka siapa saja yang terlibat langsu dengan kegiatan ekonomi.
  4. Where (di mana) artinya, penelitian harus menentukan tempat yang akan diteliti. Tempat itu harus jelas dimana tempatnya. When (kapan) artinya waktu atau periodisasinya harus jelas. Apakah tahun 1989-1999 atau tahun yang lainya.
  5. Why (mengapa) artinya, lebih pada alasan mengapa dalam penelitian fokus pada aspek tertuntu, mengapa harus orang itu, mengapa harus tempat itu, dan mengapa harus pada waktu itu.

2. Heuristik atau Pengumpulan Sumber Data

Setelah menentukan topik penelitian sejarah, langkah selanjutnya adalah heuristik yaitu, proses pengumpulan data yang diperlukan.

Sumber data yang diperlukan adalah sumber yang berkaitan dengan topik penelitian. Baik itu sumber primer atau skunder.

Sumber primer adalah sumber yang pokok atau yang berkaitan langsung dengan subyek/topik penelitian. Sedangkan sumber sekunder adalah sumber yang mendukung sumber primer atau sumber yang tidak berkaitan langsung. Misalnya, buku karya ilmiah yang berkaitan, surat kabar.

Sebelum lebih lanjut membahas tentang cara mengumpulkan sumber atau data, alangkah baiknya jika kita memahami terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan istilah heuristik.

Heuristik berasal dari bahasa Yunani “Heuriskein” yakni mempunyai arti menemukan (Hendrayana, Sejarah SMA Kelas X, Departemen Pend., 2009: 64).

Dalam rujukan buku lainnya, kata Heurisken juga diartikan “memperoleh”.

Dalam bukunya Dwi Ari Listiani (2009: 52), G. J. Reiner berpendapat bahwa, heuristik adalah suatu teknik, mencari dan mengumpulkan sumber.

Jika dikaitkan dengan penelitian sejarah berarti, peneliti mengumpulkan sumber-sumber yang merupakan jejak sejarah atau peristiwa sejarah.

Dalam buku lain, heuristik maksudnya adalah tahap untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber berbagai data agar dapat mengetahui segala bentuk peristiwa atau kejadian sejarah masa lampau yang relevan dengan topik/judul penelitian (Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 42).

Dalam penelitian sejarah, secara umum sumber sejarah dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Sumber lisan. Cerita orang-orang yang mengalami atau menyaksikan suatu peristiwa yang akan diteliti. Jika yang diteliti adalah perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, maka orang yang tepat untuk menjadi sumber adalah para Veteran Republik Indonesia. Dari Veteran inilah cerita yang menjadi sumber sejarah dapat dijadikan data untuk penelitian.
  2. Sumber teks atau tulisan yang berkaitan langsung dengan suatu peristiwa masa lampau. Seperti tulisan-tulisan yang terdapat tulisan kuno, surat yang ditulis langsung oleh pelaku sejarah seperti kitab Sota Soma. Sumber yang berbentuk tulisan ini biasa disebut dengan dokumen.
  3. Benda-benda peninggalan sejarah yang berkaitan langsung dengan peristiwa sejarah. Seperti candi-candi, peningglan berupa ketaton, atau benda pusaka seperti keris, kampak, dll.

Dari ketiga sumber di atas, terdapat metode atau cara untuk mendapatkan data atau informasi dari sumber-sumber tersebut. Metode itu adalah wawancara, dokumentasi, dan observasi.

  1. Wawancara
    Wawancara adalah proses komunikasi dengan seseorang sebagai sumber sejarah. Dengan mewawancarai orang yang mengalami atau yang menyaksikan suatu peristiwa sejarah, kita dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian.
  2. Dokumentasi
    Yaitu mencari sumber sejarah yang berbentuk teks. Teks tersebut juga harus berkaitan langsung dengan penelitian sejarah. Dengan mencari dokumen yang berkaitan langsung dengan peristiwa sejarah, kita dapat memperoleh data di dalamnya.
  3. Observasi
    Observasi adalah subuah kegiatan untuk mengamati suatu obyek tertentu. Jika berkaitan dengan penelitian sejarah, maka yang diobservasi adalah benda peninggalan masa lampau. Dari benda peninggalan sejarah, kita dapat mengamatinya dan mendapat informasi dari benda tersebut.

3. Kritik atau Verifikasi

Setelah proses pengumpulan data yang didapat dari sumber-sumber sejarah dirasa sudah cukup, maka proses selanjutnya adalah memverifikasi.

Menurut Marwan (2009: 56) verifikasi adalah kegiatan mempelajari data yang telah direduksi dan disajikan pada langkah-langkah sebelumnya, dan dengan pertimbangan terus menerus sesuai dengan perkembangan adat dan fenomena yang ada di lapangan, pada akhirnya menghasilkan kesimpulan untuk mengambil sesuatu keputusan.

Ada pula yang mendefinisikan istilah “verifikasi” dengan cukup sederhana. Verifikasi adalah penilaian terhadap sumber-sumber sejarah (Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 42).

Terdapat dua pertanyaan agar kita dapat menilai sumber sejarah. Pertanyaan itu adalah:

  1. Bagaimana cara kita menyimpulkan informasi dari sumber itu?
  2. Apakah sumber itu berkaitan dengan penelitian kita?

Agar kita dapat memperoleh kesimpulan atau keputusan terhadap sumber sejarah, maka diperlukan kritik untuk mencari kebenaran. Kritik sumber merupakan kegiatan peneliti untuk mencari kebenaran.

Untuk membuktikan kebenaran tersebut, maka harus berdasar pada sumber sejarah. Akan tetapi sumber sejarah yang digunakan pun harus sumber yang memang benar-benar bukti yang sesuai dengan apa yang terjadi di masa lalu. Dengan demikian sumber sejarah pun harus memiliki kebenarannya.

Intinya, agar kita dapat menguji kebenaran sumber sejarah maka diperlukan kritik terhadap sumber sejarah. Lalu bagaimana cara kita mengkritik sumber sejarah yang sudah terkumpul?

Dalam penelitian sejarah terdapat dua cara untuk mengkritik sumber sejarah, yaitu: kritik ekstern dan kritik intern.

a. Kritik Ekstern

Kritik ekstern adalah kritik yang mempersoalkan apakah sumber yang dikumpulkan adalah sumber asli atau palsu.

Ketika peneliti atau sejarawan menguji keaslian sumber sejarah, maka berkaitan dengan bahan pembuatan, tinta yang dipakai, serta bentuk sumber sejarah.

Dalam kritik ekstern terdapat tiga pertanyaan yang bisa digunakan terkait dengan sumber sejarah, yaitu:

  1. Apakah sumber itu merupakan sumber yang dikehendaki? (autentitas)
  2. Apakah sumber itu asli, turunan, tiruan, atau palsu? (orisinalitas)
  3. Apakah sumber itu masih utuh atau sudah dirubah? (soal integritas)

b. Kritik Intern

Setelah sejarawan telah menguji sumber sejarah dengan pertanyaan di atas, maka langkah selanjutnya adalah kritik intern.

Kritik intern adalah kritik terhadap isi atau informasi dari suatu sumber sejarah seperti prasasti, kitab kuno, dokumen, dll.

Kritik intern dilakukan untuk membuktikan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber sejarah dapat dipercaya dengan menilai intrinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian-kesaksian berbagai sumber.

Kritik intern merupakan kritik yang dilakukan setelah kritik ekstern sudah berhasil dilaksanakan. Sedangkan penilaian intrinsik terdapat dua langkah.

Langkah yang pertama adalah menentukan sifat sumber sejarah (apakah sumber sejarah itu bersifat formal atau non formal, resmi atau tidak resmi).

Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi dinilai lebih berharga dari pada sumber resmi, sebab sumber tidak resmi bukan dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (untuk kalangan bebas) sehingga isinya bersifat apa adanya, terus terang, tidak banyak yang disembunyikan, dan objektif (Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 44).

Langkah kedua adalah menyoroti penulis sumber tersebut, karena sang penulis sumber adalah orang yang memberikan informasi yang dibutuhkan.

Pembuatan sumber harus dipastikan bahwa kesaksiannya dapat dipercaya. Untuk itu, harus mampu memberikan kesaksian yang benar dan harus dapat menjelaskan mengapa ia menutupi (merahasiakan) suatu peristiwa, atau sebaliknya melebih-lebihkan karena ia berkepentingan di dalamnya. (Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 44)

4. Interpretasi

Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi suatu kesatuan yang harmonis dan masuk akal.

Interpretasi dalam sejarah dapat juga diartikan sebagai penafsiran suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa (Tarunasena M., Departemen Pend., Kelas X, 2009: 45).

Tarunasena (2009: 45) juga menyebutkan bahwa, interpretasi dalam sejarah adalah penafsiran terhadap suatu peristiwa, fakta sejarah, dan merangkai suatu fakta dalam kesatuan yang masuk akal.

Dalam melakukan penafsiran, peneliti sejarawan melakukan analisis sesuai dengan fokus penelitianya. Penafsiran juga harus bersifat logis dan harus menghindari subjektifitas atau penafsiran yang semena-mena.

Dalam proses interpretasi sejarah, seorang peneliti harus berusaha mencapai pengertian faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa.

Bagi kalangan akademis, agar dapat menginterpretasi fakta dengan kejelasan yang objektif, harus dihindari penafsiran yang semena-mena karena biasanya cenderung bersifat subjektif.

Selain itu, interpretasi harus bersifat deskriptif sehingga para akademisi juga dituntut untuk mencari landasan interpretasi yang mereka gunakan.

Proses interpretasi juga harus bersifat selektif sebab tidak mungkin semua fakta dimasukkan ke dalam cerita sejarah, sehingga harus dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah. (Wardaya, Cakrawala Sejarah SMA Kelas X, 2009: 46)

5. Historiografi atau Penulisan

Langkah yang terakhir metode sejarah adalah historiografi, yakni merupakan cara penulisan, pemaparan atau penulisan laporan hasil penelitian sejarah yang dilakukan (Dwi Ari Listiani, Sejarah SMA Kelas X, 2009: 54).

Penulisan laporan hendaknya memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian dari fase awal hingga akhir (penarikan kesimpulan).

Penulisan karya ilmiah atau dalam hal ini adalah penelitian sejarah biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu:

  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan
  3. Penutup

Dari masing-masing bagian terdapat bab dan sub bab. Contoh sederhana urutan dalam penulisan karya ilmiah yang berjudul “Pemberontakan Petani Banten 1888” adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan
    • Latar Belakang Masalah
    • Rumusan Masalah
    • Tujuan Penulisan
  2. Pembahasan
    • Pengertian Pemberontakan
    • Fakta yang terjadi di Banten Pada tahun 1888
    • Faktor yang menyebabkan pemberontakan
    • dll
  3. Penutup
    • Kesimpulan
    • Kritik dan saran

Contoh di atas adalah urutan cara penulisan karya ilmiah yang sederhana. Dari semua bab dan sub bab tergantung dari topik penelitian.

C. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas (pengertian penelitian sejarah s/d langkah-langkah penelitian sejarah) dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pengertian penelitian sejarah adalah proses atau usaha dalam menggali dan mengkaji suatu fakta berdasarkan sumber-sumber sejarah dengan cara yang sistematis dan terarah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terhadap suatu subyek sejarah.

Langkah-langkah penelitian sejarah dibagi menjadi lima tahap:

  1. Menentukan topik penelitian yang tujuanya adalah dapat memfokuskan penelitian.
  2. Heuristik atau pengumpulan sumber sejarah yang bertujuan untuk mendapatkan informasi dari sumber sejarah tersebut. Selain itu dalam pengumpulan sumber sejarah secara garis besar terdapat tiga cara yaitu, wawancara, dokumentasi, dan observasi.
  3. Verifikasi sumber sejarah, tahap ini adalah tahap untuk membuktikan bahwa sumber sejarah yang kita dapatkan adalah sumber yang orisinal atau tidak, apakah sumber itu berkaitan dengan penelitian, dan sumber tersebut sudah dirubah atau tidak.
  4. Interpretasi atau menafsirkan sumber-sumber yang sudah diverifikasi. Historiografi atau pemaparan hasil penelitian dalam bentuk tulisan sesuai dengan contoh

Copyright © 2022

Ahli Sosial